Tangga, Perlengkapan Lalu Lintas Vertikal

Tangga, Perlengkapan Lalu Lintas Vertikal

Oleh: Saptono Istiawan

Di dalam rumah, mau tidak mau kita harus menyediakan ruang untuk lalu lintas yang lebarnya proporsional. Ruang itu lebih kurang bisa mencapai 10 persen dari seluruh luasan lantai rumah kita.

Apabila rumah kita berlantai lebih dari satu, kita harus menambah lagi dengan ruang untuk lalu lintas vertikal, yakni tangga. Karena itu, ukuran, penempatan, dan bentuk tangga harus dipikirkan secara cermat.

Mengapa? Karena ukurannya harus ditentukan dengan ukuran yang optimal. Artinya, ruang yang dipakai untuk tangga harus digunakan seefisien mungkin, namun tetap menghasilkan tangga yang nyaman untuk ditapaki. Ukuran dasar yang menentukan besarnya tangga adalah anak tangga. Secara tradisional, perbandingan tinggi (rise) dan lebar/kedalaman (tread) yang dianggap baik adalah bila dua dikali tinggi ditambah satu dikali lebar anak tangga berjumlah 63 cm. Jadi, bila tinggi anak tangga 18 cm, lebar yang ideal adalah 27 cm. Dan, batas ketinggian anak tangga maksimum yang masih dibolehkan adalah 20 cm.

Namun, penyelidikan yang dilakukan Prof Dr Lehrmann dari Institut Kaiser Wilhelm di Dortmund, Jerman, terhadap 1.000 relawan menunjukkan bahwa unit tangga yang paling sedikit mengonsumsi energi manusia untuk mendakinya adalah yang beranak tangga dengan tinggi 17 cm dan lebar 29 cm. Sementara anjuran ketinggian minimum ruang tangga (head room) adalah dua meter.

Untuk penempatan tangga, harus sedemikian rupa sehingga menghasilkan penggunaan yang efisien bagi ruang untuk lalu lintas secara keseluruhan dalam rumah kita. Di samping itu, usahakan agar tangga jangan menempati ruang yang bernilai lebih, seperti di daerah sudut bangunan. Pasalnya, di ujung bangunan bisa digunakan sebagai ruang lain, misalnya ruang tidur atau ruang kerja. Maka, tangga sering kali ditempatkan di lokasi yang sulit.

Tetapi, kesulitan itu tidak berarti tangga tidak bisa tampil bermakna dan estetis. Malahan bisa menghasilkan tangga yang kreatif dan indah secara arsitektural.

Bentuk tangga

Rancangan tangga disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi setempat. Ada berbagai pilihan bentuk lay out tangga seperti bentuk U, L, lengkung, atau lurus saja. Namun, bentuk tangga bergantung pada pemilihan bahan juga. Bisa beton, kayu, baja, atau campuran dari dua atau ketiganya. Masing-masing punya kelebihan dan kekurangannya. Tetapi, yang harus diingat, tangga bisa menjadi elemen visual/feature penting dalam rumah Anda. Jadi, harus dirancang dengan memperhitungkan soal estetika juga.

Di samping itu, untuk keamanan, ada beberapa aturan baku bagi pembuatan tangga. Setiap ketinggian maksimum 15 anak tangga harus dibuat bordes (landing), yaitu suatu platform datar yang cukup luas untuk melangkah secara horizontal sebanyak kurang lebih tiga atau empat langkah sebelum mendaki ke anak tangga berikutnya. Ujung setiap anak tangga juga harus dilengkapi dengan bahan atau bentuk kasap yang membuat anak tangga tidak licin. Yang lebih penting lagi adalah adanya pagar pengaman di sisi kiri dan kanan tangga, bisa berupa railing setinggi 95 cm, dinding penuh, atau balustrade (dinding setinggi pinggang).

Ketinggian setiap anak tangga juga harus tepat sama dari yang paling bawah sampai yang paling atas. Ini membutuhkan kecermatan, baik dalam perancangan maupun pembuatannya. Jika satu anak tangga saja berbeda ukurannya, akan terasa canggung bagi yang melewatinya karena kita, tanpa sadar, melangkah dengan irama yang eksak.

Saptono Istiawan Arsitek

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: